Senin, 22 Oktober 2012

assigment


            Nama   :           Fenny Indarwati
            Nim     :           D07209030
            Sem     :           7A
UTS Pembelajaran SKI

1.      Sebagai guru mapel SKI harus profesional,dan memiliki kempetensi. Apakah alasan saudara? Uraikan!
Karena,
·           Guru MI harus profesional dan meimiliki kompetensi (harus ahli menguasai materi dan bersedia mengembangkan bahan ajar Mapel SKI), Disamping itu guru harus melaksanakan materi ajar, penekanan pada pencapaian indikator dan tujuan sehingga dapat optimal hasilnya.
·           Guru MI harus punya kemauan dan kemampuan yang serius dalammelaksanakan tugas serta mengemban amanat
·           GuruMapel SKI disamping harus menguasai bahan dan materinya harus bisa jadi fiudr bagi peserta didik
·            Guru Mapel SKI harus berpenampilan rapi, disiplin, tertib, dan berhati-hati dalam berperilaku

2.      Guru mapel SKI harus mengadakan pengembangan bahan ajar dan melaksanakan pernyataan materi ajar, apa maksudnya ?
Bahan ajar merupakan salah satu alat bantu dalam pembelajaran yang dalam proses pembelajarannya harus sesuai kompetensi yang diinginkan.
Pengembangan bahan ajar dilakukan berdasarkan suatu proses yang sistematik agar kesahihan dan keterpercayaan bahan ajar dapat dijamin. Pengembangan bahan ajar ini dimulai dari proses perancangan dan pengembangan berupa aktivitas siswa dengan menggunakan bahan ajar yang sudah ada.
Sedangkan pelaksanaannya, materi ajar yang telah dikembangkan oleh guru diberikan kepada siswa sesuai dengan SK-KD dan Indikator

3.      Apa pengertian sejarah ? metode kajian ilmiah sejarah dan apa manfaat mempelajari kajian sejarah dan bagaimana hubungan kebudayaan islam dengan peradaban islam ?
·           Kata Sejarah berasal dari bahasa arab “Syajaratun” yang berarti pohon kehidupan,walaupun dalam bahasa arab sendiri mengartikan Ilmu yang mempelajari tentang kisah masa lalu yang disebut “Tarikh”.
·           Metode kajian nya bersifat analisis, deskriptif kualitatif dalam mengumpulkan data verbal dengan wawancara/menganalisis cara peninggalan-peninggalan sejarah
·           Manfaat mempelajari kajian sejarah antara lain :
-          Sebagai bentuk sikap keberanian bahwa setiap perjuangan hidup manusia pasti lika-liku
-          Mengambil nilai-nilai dan norma-norma yang dijadikan sebagai acuan hidup sehari-hari
-          Bisa dijadikan sebagai bahan pembelajaran yang dapat merubah sikap dan perilaku yang bai setelah mempelajarinya
·           Hubungan kebudayaan islam dan peradaban Islam, keduanya tidak mungkin bisa dipisahkan, tetapi budaya hanya sebatas hasil budi karya,hasil dari cipta, rasa, karya, karsa manusia tentang tata cara hidup bermasyarakat dan tata cara upacara keagamaan pada masyarakat tertentu

4.      Kemungkinan masih terjadi kesalahan guru dalam pembelajaran SKI, apa alasannya ? Uraikan !
·           Mengambil jalan pintas dalam proses pembelajaran (mengajar tanpa kesiapan)
·           Mengabaikan peserta didik (setiap peserta didik mempunya perbedaan, guru harus pintar-pintar mengidentifikasi perbedaan-perbedaan sifat individual peserta didik serta memahami ciri-ciri peserta didik yang mungkin harus dikembangkan lagi)
·           Diskriminatif (dalam memberikan nilai,seorang guru harus memberikan nilai secara adil dan sesuai kemampuan peserta didik. Tidak boleh pilih-pilih)
·           Memaksa hak peserta (seorang guru boleh saja mempunyai pekerjaan sampingan dan mendapat hasil dari pekrjaan itu, tetap seorang guru tidak berhak memaksa peserta didik untuk membeli buku, hanya sekedar menawarkan saja, tapi kalau memaksa akan kasihan orangtuanya yang tidak mampu)
5.      Terdapat beberapa langkah yang harus diperhatikan oleh guru didalam pembelajaran SKI ?
·           Selalu mengadakan apersepsi (preetes), guna untuk mengingat kembali pelajaran yang lalu dan menghubungkannya dengan pelajaran yang baru
·           Penyajian materi, dalam penyajian materi ini yang paling penting guru SKI harus menggunakan gaya bahasa, intonasi, agar bisa menyentuh perasaan/juga bisa dengan bermain peran.
·           Guru harus membuat materi pokok, rumusan masalah, yang harus dikorelasikan (dikaitkan/dihubungkan)peristiwa lalu dengan kehidupan sehari-hari yang dialami saat ini, sehingga mempunyai semangat terhadap nilai-nilai kandungan yang ada pada sejarah.
·           Guru harusmengadakan evaluasi : post test setiap akhir tatp muka. Untuk mengetahui sejauh mana penguasaan siswa.












            Nama   :           Fenny Indarwati
            Nim     :           D07209030
            Sem     :           7A
UTS SKI

1.      Apa pengertian sejarah ?
Kata Sejarah berasal dari bahasa arab “Syajaratun” yang berarti pohon kehidupan,walaupun dalam bahasa arab sendiri mengartikan Ilmu yang mempelajari tentang kisah masa lalu yang disebut “Tarikh”.

2.      Bagaimana metode ilmiah sejarah dan apa manfaat mempelajari kajian sejarah dan bagaimana hubungan kebudayaan islam dengan peradaban islam ?
·           Metode kajian nya bersifat analisis, deskriptif kualitatif dalam mengumpulkan data verbal dengan wawancara/menganalisis cara peninggalan-peninggalan sejarah
·           Manfaat mempelajari kajian sejarah antara lain :
-          Sebagai bentuk sikap keberanian bahwa setiap perjuangan hidup manusia pasti lika-liku
-          Mengambil nilai-nilai dan norma-norma yang dijadikan sebagai acuan hidup sehari-hari
-          Bisa dijadikan sebagai bahan pembelajaran yang dapat merubah sikap dan perilaku yang bai setelah mempelajarinya
·           Hubungan kebudayaan islam dan peradaban Islam, keduanya tidak mungkin bisa dipisahkan, tetapi budaya hanya sebatas hasil budi karya,hasil dari cipta, rasa, karya, karsa manusia tentang tata cara hidup bermasyarakat dan tata cara upacara keagamaan pada masyarakat tertentu

3.      Bagaimana kondisi alam pra islam (jaman jahiliyah) ?
·           Kondisi Politik
Secara global-teritorial, Arab merupakan negeri yang terletak di semenanjung Arab yang dikelilingi tiga lautan, yaitu Laut Merah di Barat, Samudera Hindia di Selatan, dan Teluk Persia di sebelah Timur. Letak geopolitik ini berdampak signifikan pada kondisi sosial bangsa Arab. Negeri Yaman misalnya, diperintah oleh bermacam-macam suku dan pemerintahan yang terbesar adalah masa pemerintahan Tababi’ah dari kabilah Himyar.
Di bagian Timur Jazirah Arab, dari kawasan Hirah hingga Iraq, yang ada hanya daerah-daerah kecil yang tunduk kepada kekuasaan Persia hingga datangnya Islam. Raja-raja Munadzirah sama sekali tidak berdiri sendiri dan tidak merdeka, tetapi tunduk secara politis di bawah kekuasaan raja-raja Persia. Bagian Utara Jazirah Arab sama dengan bagian Timur, karena di daerah itu juga tidak ada pemerintahan bangsa Arab yang murni dan merdeka. Semua raja di sini tunduk di bawah kekuasaan Romawi. Raja-raja Ghasasanah semuanya serupa dengan raja-raja Munadzirah. Sementara itu, di Tengah Jazirah Arab, di mana terdapat tanah suci Mekkah dan sekitarnya, kaum Adnaniyyin menjadi penguasa yang independen, tidak dikuasai oleh Romawi, Persia, maupun Habasyah. Allah telah menjaga kehormatan tanah dan penduduk disana. Bahkan sejak masa imperialisme Barat yang menjajah dunia Islam, tak ada yang bisa menguasai negeri suci ini karena Allah telah menjaga kesuciannya.
·                Kondisi Ekonomi
Perekonomian bangsa Arab secara umum tidak bermakna apa-apa, kecuali negeri-negeri yang ada di daerah Yaman. Yaman adalah negeri yang subur, khususnya di sekitar bendungan Ma’rib, di mana pertanian maju secara pesat dan menakjubkan. Di masa itu juga telah berkembang industri, seperti industri kain katun dan persenjataan berupa pedang, tombak, dan baju besi. Akan tetapi, mereka tidak bersyukur dan justru berpaling dari ketaatan kepada Allah. Karena kekufuran itu, Allah pun menghancurkan bendungan Ma’rib itu. Sementara itu, mayoritas kabilah Adnan tinggal di tengah gurun pasir dengan rumput yang sedikit untuk mengembala domba. Mereka hidup dari susu dan dagingnya. Sedangkan kaum Quraisy yang tinggal di tanah suci mengandalkan perekonomiannya dari berdagang. Pada musim dingin, mereka berduyun-duyun ke Yaman untuk berdagang. Dan ketika musim panas, mereka memilih Syam sebagai tujuan perdagangannya. Orang-orang Quraisy ini hidup dalam kemakmuran, berbeda dengan kabilah-kabilah lainnya yang rata-rata hidup susah dan menderita.
·                Kondisi Sosial
Fase kehidupan bangsa Arab tanpa bimbingan wahyu Ilahi dan hidayah sangatlah panjang. Oleh sebab itu, di antara mereka banyak ditemukan tradisi yang sangat buruk. Berikut ini adalah contoh beberapa tradisi buruk masyarakat Arab Jahiliyah.
-          Perjudian atau maisir. Ini merupakan kebiasaan penduduk di daerah perkotaan di Jazirah Arab, seperti Mekkah, Thaif, Shan’a, Hijr, Yatsrib, dan Dumat al Jandal.
-          Minum arak (khamr) dan berfoya-foya. Meminum arak ini menjadi tradisi di kalangan saudagar, orang-orang kaya, para pembesar, penyair, dan sastrawan di daerah perkotaan.
-          Nikah Istibdha’, yaitu jika istri telah suci dari haidnya, sang suami mencarikan untuknya lelaki dari kalangan terkemuka, keturunan baik, dan berkedudukan tinggi untuk menggaulinya.
-          Mengubur anak perempuan hidup-hidup jika seorang suami mengetahui bahwa anak yang lahir adalah perempuan. Karena mereka takut terkena aib karena memiliki anak perempuan.
-          Membunuh anak-anak, jika kemiskinan dan kelaparan mendera mereka, atau bahkan sekedar prasangka bahwa kemiskinan akan mereka alami.
-          Ber-tabarruj (bersolek). Para wanita terbiasa bersolek dan keluar rumah sambil menampakkan kecantikannya, lalu berjalan di tengah kaum lelaki dengan berlengak-lenggok, agar orang-orang memujinya.
-          Lelaki yang mengambil wanita sebagai gundik, atau sebaliknya, lalu melakukan hubungan seksual secara terselubung.
-          Prostitusi. Memasang tanda atau bendera merah di pintu rumah seorang wanita menandakan bahwa wanita itu adalah pelacur.
-          Fanatisme kabilah atau kaum.
-          Berperang dan saling bermusuhan untuk merampas dan menjarah harta benda dari kaum lainnya. Kabilah yang kuat akan menguasai kabilah yang lemah untuk merampas harta benda mereka.
-          Orang-orang yang merdeka lebih memilih berdagang, menunggang kuda, berperang, bersyair, dan saling menyombongkan keturunan dan harta. Sedang budak-budak mereka diperintah untuk bekerja yang lebih keras dan sulit.
·         Kondisi Agama
Menurut Thaib Thahir Abdul Mu’in, hakikat ibadah pendudukan Arab Jahiliyah adalah hasil dari salah satu dua perasaan, yaitu:
-          Perasaan manusia yang merasa bahwa ada kekuatan tersembunyi, yang tidak dapat dikenal dan diketahui oleh manusia. Kekuatan itu yang menyebabkan bergerak dan berlakunya alam semesta ini dengan teratur dan harmonis. Perasaan ini tertanam dalam jiwa manusia.
-          Perasaan yang salah terhadap sesuatu, karena hanya berdasarkan kepada pancaindera saja, seperti perasaan terhadap salah satu kekuatan yang ada di alam ini. Misalnya, perasaan orang Mesir kuno yang menganggap keistimewaan itu pada sapi, matahari, sungai Nil, dan sebagainya. Perasaan inilah yang mendorong manusia ke arah kepercayaan yang salah. Tetapi meskipun salah, perasaan itu sangat membekas di dalam kehidupan masyarakat ketika itu. Bahkan bekas-bekas itu hingga kini masih terlihat di kalangan umat yang terbelakang.
-          Bangsa Arab umumnya mempunyai kedua perasaan tersebut. Perasaan yang pertamalah yang mendorong bangsa Arab mengabdi kepada Allah dan mengakui jualah yang menjadikan langit dan bumi, memberikan rezeki, dan sebagainya. Sedangkan perasaan kedua yang mendorong mereka menyembah berhala, karena awalnya mereka mengganggap bahwa berhala adalah alat penghubung menyembah dan mendekatkan diri kepada Allah. Namun pada akhirnya mereka meyakini bahwa dalam berhala-berhala itu memiliki kekuatan sendiri.
-          Kemusyrikan di tengah bangsa Arab musya’ribah, bermula ketika mereka keluar mencari rezeki. Jika di antara penduduk di sekitar Makkah ada yang hendak bepergian ke daerah lain, mereka membawa beberapa batu yang ada di dekat Ka’bah, dengan tujuan sebagai kenang-kenangan bagi tanah airnya dan sebagai pengganti Ka’bah yang tidak dapat dibawa. Semenjak itulah orang Jahiliyah menghormati dan mengangungkan batu. Keadaan ini berlangsung beberapa abad lamanya dan turun temurun. Sehingga anak cucunya yang kemudian, tidak mengenal lagi asal muasal penghormatan dan penyembahan batu-batu itu. Sebagian bangsa Arab ada yang pindah dari menyembah batu-batu kepada menyembah berhala atau arca, ada yang tetap menyembah batu, dan ada pula yang tetap berpegang kepada agama Nabi Ibrahim. Dengan demikian, iman orang Arab Jahiliyah terhadap batu-batu dan berhala itu tidak begitu kuat. Karena dasar kepercayaannya kurang kuat. Mereka akan membinasakan arca-arca itu, apabila harapan-harapan mereka tidak terkabul. Dan apabila terkabul, mereka akan membayar dengan pengorbanan berupa hewan ternak.
-          Berhala yang dipuja dan disembah oleh bangsa Arab Jahiliyah sangat banyak jumlahnya. Dari sekian banyak berhala-berhala tersebut, yang terbesar dan termasyhur ada lima berhala, antara lain: Berhala Wad atau Waddan, menjadi sesembahan kabilah Kalb, Berhala Sua’ atau Sua’an, menjadi sesembahan kabilah Huzdail, Berhala Yaghuts, menjadi sesembahan kabilah Bani Khuthaif, Berhala Nasr, menjadi sesembahan kabilah Himyar.

4.      Bagaimana kehidupan rasulullah sejak kecil-dewasa !
MASA KANAK-KANAK
-          Menurut sebagian besar ulama, Muhammad (SAW) dilahirkan di kota Makkah pada Senin pagi di hari ke-sembilan bulan Rabiul Awal (kira-kira tanggal 20 atau 22 April 571 M), kira-kira 50 atau 55 hari setelah peristiwa kehancuran pasukan bergajah yang sedang bergerak menuju Baitullah di kota Makkah. Kakek beliaulah yang memberikan nama Muhammad (SAW). Beliau adalah bagian dari suku Quraisy yang dihormati. Namun demikian, keluarga beliau sangatlah miskin. Ayahanda beliau, Abdullah, telah wafat sebelum beliau dilahirkan.
IBU-SUSU
Sesuai dengan tradisi Arab, sekelompok perempuan dusun datang ke kota  Makkah untuk menjual jasa menyusui bayi. Kebanyakan dari mereka mencari bayi dari keluarga kaya. Tak satupun dari mereka peduli untuk menyusui bayi Muhammad (SAW) lantaran ia yatim dan dari keluarga yang sangat miskin. Akhirnya, Halimah bersedia menjadi ibu-susunya dengan harapan keluarganya dapat membina hubungan baik dengan suku Quraisy. Dalam perjalannya kembali kerumah, banyak hal istimewa yang dialaminya; Keledai kurus dan lemah yang dikendarai Halimah dan bayi Muhammad (SAW) berubah menjadi kuat dan cepat langkahnya, sehingga meninggalkan rombongannya jauh di belakang. Halimah ketika itu sedang tidak keluar air-susunya, sehingga anaknya sendiri pun menangis semalaman karena tak mandapatkan air susu. Ketika ia memberikan giliran menyusui kepada bayi Muhammad (SAW) ia dapati air-susunya mencukupi untuk diberikan kepada bayi Muhammad (SAW) dan juga untuk anaknya sendiri. Setelah itu kedua bayi itupun tertidur nyenyak. Onta betina milik Halimah pun telah beberapa hari tidak menghasilkan air susu. Setelah diambilnya bayi yatim Muhammad (SAW) sebagai bayi-susuannya, suami Halimah mendapati bahwa onta betina mereka begitu banyak mengeluarkan air susu. Halimah dan suaminya pun meminum susu onta ini hingga kenyang sehingga mereka bisa tidur nyenyak.
Lahan mereka yang biasanya tandus ditumbuhi rerumputan menghijau sehingga ternak mereka bisa merumput sebanyak-banyaknya. Telah banyak keberkahannya Bayi Muhammad (SAW) bagi keluarga ini. Setelah berumur dua tahun, sang bayi diantarkan kembali kepada ibundanya. Kepada Aminah, ibunda Muhammad (SAW), mereka meminta ijin untuk diperbolehkan mengasuh sang bayi di pedesaan selama dua atau tiga tahun lagi. Aminah menyetujui permintaan mereka.
Disebutkan dalam hadits Muslim, diriwayatkan oleh Anas (RA), suatu hari si kecil Muhammad (SAW) sedang bermain bersama anak-anak sebayanya. Malaikat Jibril (AS) datang, membelah dada Muhammad (SAW) dan mengeluarkan hatinya. Jibril membuang sebuah gumpalan darah seraya berkata, "Gumpalan ini adalah bagian dari setan yang ada pada dirimu." Selanjutnya Jibril (AS) mencuci hati itu dengan air Zam-Zam kemudian mengembalikannya ke dalam dada Muhammad (SAW). Teman-teman bermain Muhammad (SAW) mengadukan kepada Halimah bahwa seseorang telah membunuh Muhammad (SAW). Halimah pun bergegas menuju tempat anak-anak itu bermain dan mendapati Muhammad (SAW) dalam keadaan baik-baik saja, hanya saja nampak pucat. Setelah kejadian ini Halimah menjadi selalu khawatir atas keselamatan anak asuhnya ini. Maka iapun mengembalikan Muhammad (SAW) kepada Ibundanya.
ANAK YATIM YANG LEMAH
Muhammad (SAW) tinggal bersama ibundanya hingga mencapai usia 6 tahun. Aminah tak memiliki apapun untuk menghidupi diri dan anaknya. Iapun pulang ke kota Madinah, tempat dimana keluarganya tinggal agar dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka ala kadarnya. Di Madinah, Aminah jatuh sakit. Tak berapa lama berselang iapun wafat dan dimakamkan di sebuah dusun bernama Abwa. Jadilah Si kecil Muhammad (SAW) yatim-piatu. Ia pun sedih, menyendiri dan tak ada gairah bermain dengan teman-temannya. Selera makannya pun hilang dan kian hari kian bertambah lemah. Para sanak-saudaranya mengantarkannya kepada kakeknya, Abdul Muththalib. Sang kakek meninggal dunia di usia 110 Tahun. Sekali lagi Muhammad (SAW) kecil kembali tanpa daya di usianya yang ke-10. Pengasuhan dirinya dilanjutkan oleh sang Paman Abu Thalib di rumahnya. Abu Thalib dikenal sebagai orang baik dan salah seorang pemuka suku Quraisy. Namun ia pun sangat miskin sehingga tak mampu menanggung beban keluarganya yang besar. Muhammad (SAW) terpaksa mencari pekerjaan sebagai buruh; di usianya yang baru sepuluh tahun; agar dapat menghidupi dirinya sendiri. Mulailah ia menjadi penggembala ternak milik orang lain, di daerah gurun Makkah yang amat sangat panas. Ia makan dari tetumbuhan liar yang terdapat di gurun dan meminum susu dari kambing atau domba yang di gembalakannya. Dengan bertelanjang kaki dan mengenakan pakaian yang tak cukup untuk sekedar menutupi tubuhnya, ia habiskan waktu seharian di gurun pasir. Biasanya ia kembali ke rumah sang paman di malam hari untuk sejenak bermalam disana. Di gurun pasir itulah ia menghayati bentuk alamiah dari kehidupan. Kesulitan hidup, kesendirian, dan rasa tanggung-jawab menjadikannya lebih matang daripada usianya. Sang paman yang pedagang terkesan dengan kecerdasan dan kematangan keponakannya. Maka ketika Muhammad (SAW) berusia 12 tahun, Abu Thalib mengajaknya dalam perjalanan dagang ke Syria.

SARAN SEORANG PENDETA
Ketika kafilah dagang mereka sampai di kota Basra di wilayah Syria Besar, seorang pendeta terkenal di masa itu, Buhairah, menghampiri Abu Thalib dan mengatakan, "Aku mengenali anak muda ini, sebagai sosok yang kelak akan dinobatkan sebagai rahmat bagi semesta alam. Hal ini tetulis jelas dalam kitab-kitab kami." Buhairah selanjutnya menyarankan kepada Abu Thalib, “Lindungi anak muda ini dari orang-orang Yahudi, lebih baik bawa ia kembali ke Makkah.”Abu Thalib menuruti saran sang pendeta tersebut.
REMAJA TELADAN
Kala itu belum ada sistem kepolisian maupun peradilan. Masing-masing suku menyelesaikan persoalan diantara mereka menurut cara mereka sendiri. Jika suku yang lemah diperlakukan sewenang-wenang oleh seorang dari suku yang berkuasa, suku yang lemah hanya bisa terdiam seribu-basa. Sebagai contoh, seorang lelaki kaya mengambil paksa anak perempuan pengunjung Makkah yang miskin, maka sang ayah tidak mempunyai jalan keluar untuk mendapatkan kembali anak gadisnya.
Remaja Muhammad (SAW) tidak senang dengan kekacauan tatanan demikian. Dikumpulkannya beberapa pemuda dan dibentuknya satuan sukarelawan untuk melawan kejahatan. Mereka memberi dukungan kepada suku-suku yang miskin dan lemah. Kelompok ini sangat berhasil dalam mencapai berbagai tujuan/sasarannya. Hal ini bukanlah sebuah langkah biasa. Langkah ini dengan cepat membawa perubahan total pada tatanan peradilan di Makkah, dan penghargaan masyarakat pun tertuju kepada remaja Muhammad (SAW).
PEDAGANG YANG JUJUR
Kejujuran, perilaku sopan-santun, kerja keras, dan kecerdasan pemuda Muhammad (SAW) merebut hati setiap orang. Hampir seluruh orang Quraisy adalah pedagang. Khadijah (RA) adalah seorang janda kaya. Ia meminta Muhammad (SAW) untuk memasarkan barang-barang dagangannya ke Syria.
Seorang pendeta yang lain berkata kepada Muhammad (SAW) bahwa, kelak ia akan menghapuskan penyembahan berhala dan menyerukan agama yang benar. Muhammad (SAW) kembali ke Makkah dengan membawa laba penjualan yang melimpah. Khadijah (RA) pun mengutus lagi misi perdagangan untuk kedua kalinya, dan sekali lagi misi ini menghasilkan laba yang menggembirakan. Maisarah, pelayan Khadijah (RA), menyertai Muhammad (SAW) dalam dua perjalan dagang itu. Ia menuturkan secara rinci berbagai kualitas yang dimiliki oleh Muhammad (SAW) kepada Khadijah (RA). Muhammad (SAW) adalah juga seorang pemuda yang menarik. Ketika itu Khadijah (RA) telah berusia 40 tahun, ia sangat tertarik dengan pribadi Muhammad (SAW) yang baru berusia 25 tahun, dan berkeinginan menikah dengannya. Maka, iapun menitip pesan kepada Maisarah untuk Muhammad (SAW). Namun setelah pesan disampaikan, Maisarah kembali kepadanya tanpa membawa jawaban.
Maka ia meminta bantuan teman dekatnya, Nafisah untuk menyampaikan pesan yang sama kepada Muhammad (SAW). Nafisah pun menyampaikan maksud hati Khadijah dan memberikan motivasi kepada Muhammad (SAW) agar bersedia menikahi Khadijah (RA). Akhirnya gayung bersambut, Muhammad menerima lamaran Khadijah dan merekapun menikah. Setelah menikah, Muhammad (SAW) mengambil dua hal penting.
Pertama, Muhammad (SAW) hendak menolong pamannya, Abu Thalib, yang miskin. Maka diambilnya anak sang paman, yakni Ali bin Abi Thalib (RA), untuk diasuh dan dibesarkannya.
Kedua, Khadijah (RA) menghadiahinya seorang budak yang ketika itu masih beragama nasrani dan berasal dari Syria, yaitu Zaid bin Harits (RA). Muhammad (SAW) memerdekakannya. Zaid (RA) pun sangat mengagumi kepribadian Muhammad (SAW), maka ia menolak kembali kepada orangtuanya dan rememilih menghabiskan sisa umurnya menemani Muhammad (SAW).


KETURUNAN DARI KHADIJAH (RA)
Keturunan pertama Muhammad (SAW) dari Khadijah (RA) adalah seorang putra yang diberi nama Qasim; ia meninggal dunia di usia kanak-kanak. Demikian juga dua putra beliau yang lain pun meninggal semasa kanak-kanak. Keturunan beliau besama Khadijah (RA) yang tumbuh dewasa adalah empat orang putri. Mereka adalah, Ruqayyah (RA), Zainab (RA), Umi Kulsum (RA) dan Fatimah (RA).
PRIBADI YANG TERPERCAYA (AL-AMIN)
Ketika Muhammad (SAW) berusia 35 tahun, terjadi dua bencana di Makkah. Pertama, terjadi kebakaran pada Ka’bah. Kedua, Banjir akibat hujan meruntuhkan sebagian dari Ka’bah. Pembangunan kembali Ka’bah dilakukan oleh suku Quraisy. Perselisihan tajam terjadi diantara sepuluh kelompok dalam suku Quraisy, ini terjadi karena masing-masing kelompok menginginkan kelompoknyalah yang mendapat kehormatan meletakkan kembali Hajar Aswad ke tempatnya semula di dinding Ka’bah.
Pertumpahan darah nyaris terjadi sebagai pilihan penyelesaian perselisihan ini. Namun, akhirnya mereka sampai pada kesepakatan bulat untuk menyerahkan urusan ini kepada Muhammad (SAW), mengingat bahwa diantara seluruh penduduk Makkah, beliau dikenal sebagai sosok yang paling jujur dan condong pada berlaku adil. Berbekal kecerdasan akal budi dan pandangan yang jauh ke depan, Muhammad (SAW) dapat dengan singkat menyajikan jalan keluar atas persoalan yang diperselisihkan.
Dimintanya selembar kain dan dibentangkannya kain ini diatas tanah. Kemudian, diletakkanlah Hajar Aswad di atas kain ini, dan masing-masing pimpinan kelompok secara bersama memegang lembaran kain dan mengangkatnya ke dekat dinding Ka’bah. Kemudian Muhammad (SAW) dengan tangannya sendiri meletakkan kembali Hajar Aswad pada tempatnya semula di dinding Ka’bah.


WAHYU PERDANA
Muhammad (SAW) memiliki kebiasaan merenung di sebuah goa yang disebut goa Hira’. Di usianya yang ke-40, suatu hal luarbiasa terjadi ketika beliau sedang berada di goa ini. Malaikat Jibril (AS) hadir disini dan meminta Muhammad (SAW) untuk membaca (dalam bahasa Arab; Iqra’! = bacalah!).
Muhammad (SAW) pun menjawab, "Aku tak bisa membaca." Jibril (AS) memeluknya dengan erat dan berkata sekali lagi, “Iqra!” Muhammad (SAW) pun menjawab lagi, "Aku tak bisa membaca." Jibril (AS) memeluknya lagi dengan sangat erat dan berkata untuk ke-tiga kali-nya, “Iqra!” " Akhirnya, Muhammad (SAW) sanggup mengikuti bacaan malaikat Jibril yang mengumandangkan lima ayat pertama Surah Al-Alaq berikut ini (Al-Alaq, Ayat 1-5)
SEORANG ISTRI YANG LUAR BIASA
·      Setelah wahyu pertama di goa Hira’, Muhammad (SAW) kembali ke rumah dengan membawa pengalaman yang tidak biasa ini dan beliau sangat cemas terhadap keselamatannya. Istri beliau, Khadijah (RA), menghibur dan menenteramkannya, juga meyakinkannya bahwasanya Allah (SWT) tak akan memperlakukan sesuatu yang membahayakannya mengingat bahwa beliau (SAW) berperilaku sangat mulia. Khadijah menambahkan pula, “Engkau memiliki hubungan baik dengan saudara-saudaramu sedarah, engkau menolong yang lemah dan yang miskin, dan engkau sangat ramah-tamah. Engkau menjunjung tinggi kebenaran”. Demikianlah, Khadijah (RA) bukan hanya sosok perempuan yang tulus, cerdas, dan seorang istri ideal, iapun seorang Muslim pertama yang menerima dengan sepenuh hati apapun yang telah diwahyukan kepada Muhammad (SAW).
·      Untuk lebih menenteramkan hati sang suami, Khadijah (RA) mengajak Muhammad (SAW) mengunjungisepupunya, Waraqah bin Naufal, yang memeluk dan mengamalkan agama Nasrani yang benar. Setelah menyimak penuturan Muhammad (SAW), Waraqah berkata, "Malaikat yang telah menjumpaimu itu adalah juga yang dahulu datang kepada Musa (AS) menyampaikan firman Allah (SWT). Semoga saya masih hidup ketika kelak terjadi peristiwa dimana masyarakat mengusirmu dari tanah kelahiranmu sendiri." Muhammad (SAW) bertanya, "Akankah mereka benar-benar mengusirku?" Waraqah berkata, "Masyarakat selalu bersikap tak bersahabat terhadap seorang pembawa risalah seperti dirimu." Beberapa hari setelah pertemuan itu Waraqah pun wafat.
·      Khadijah (RA) menyerahkan seluruh harta dan berbagai sumber-daya yang dimilikinya mengikuti arahan Nabi Muhammad (SAW) demi menegakkan Islam. Ia tegar berdiri di sisi sang suami dalam senang maupun susah. Sebagai contoh, ketika para penyembah berhala di Makkah melancarkan boikot sosial dan ekonomi kepada warga Bani Hasyim dan Bani Al-Muthalib yang berlangsung selama tiga tahun. Kesulitan hidup pun semakin tak tertahankan. Para pengikut Nabi (SAW) terpaksa harus mengkonsumsi dedaunan tumbuhan liar dan kulit hewan untuk bertahan hidup. Erangan tangisan anak-anak tak henti-hentinya karena sakit menahan lapar. Khadijah (RA) yang sebelum masa boikot adalah warga kaya dan hidup nyaman, bersama sang suami pun ikut tak luput merasakan penderitaan sebagaimana yang lain selama masa boikot itu.
·      Dua orang anak perempuan Khadijah dipaksa bercerai oleh kaum kafir, sebagai sarana menambah kepedihannya dalam penderitaan itu. Merasa belum puas dengan perlakuan itu, putrinya yang bernama Raqayyah, yang dinikahi Utsman bin Affan (RA) dijadikan sasaran berikutnya. Pasangan ini bahkan disiksa jauh lebih parah sehingga mereka hijrah ke Habsyah.
·      Allah (SWT) menyukai keteguhan iman, ketabahan, kesetiaan, dan ketulusan Khadijah (RA). Didalam hadits Bukhari, dirawayatkan oleh Abu Hurrairah (RA), suatu hari malaikat Jibril (AS) sedang duduk bersama Nabi Muhammad (SAW); Jibril (AS) berkata kepada Nabi (SAW), "Khadijah (RA) sedang mendatangimu dengan membawa makanan didalam sebuah kemasan. Manakala ia tiba, sampaikanlah salam Allah (SWT) dan salamku kepadanya. Berilah kabar gembira kepadanya tentang sebuah rumah berhiaskan aneka batu permata disediakan untuknya di Surga Firdaus. Suasana disana amatlah tentram dan damai, tiada kegaduhan dari apapun juga. Ia sedikitpun takkan mengalami kesulitan dan kepayahan di rumahnya didalam Surga.” Betapa ia seorang perempuan istimewa dan ditinggikan derajatnya. Jika para Muslimah mampu menerapkan ketulusan dan kesabaran serupa terhadap para suami mereka, Allah (SWT) pun akan memberikan ganjaran serupa kepada mereka.
WAHYU BERIKUTNYA YANG MENGGETARKAN
Wahyu ke-dua yang diturunkan adalah, tujuh ayat pertama dari surat Al-Muddatstsir. Setiap ayatnya begitu singkat namun sangat bertekanan dan bermakna sangat singkat.

5.      Bagaimana dakwah dan perjuangan rasulullah selama kurang lebih 13 tahun di makkah dan 10 tahun dimadinah ?
Perjuangan dan dakwah rasulullah selama dimakkah
A.    Setelah Nabi Muhammad SAW menerima wahyu, maka secara resmi beliau telah diangkat menjadi Rasul oleh Allah SWT. Beliau mempunyai kewajiban untuk membina umat yang telah berada dalam kesesatan untuk menuju jalan yang lurus. Dakwah Nabi Muhammad SAW dimulai dari wilayah Makkah di jazirah Arab, walaupun pada akhirnya ajaran beliau adalah untuk seluruh umat manusia. Jauh sebelum kerasulan Nabi Muhammad SAW, sebenarnya Allah SWT juga telah mengutus nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s. Kedua Rasul ini telahberhasil membina bangsa Arab dan masyarakat makkah menjadi orang yang beriman dan henya menyembah kepada Allah SWT. Bahkan kedua Rasul tersebut juga diperintah Allah SWT untuk membangun Ka’bah di Makkah. Namun dengan berjalanya waktu, keimanan masyarakat Makkah menjadi luntur dan berubah menjadi kemusyrikan dengan menyembah patung dan berhala. Mereka tidak hanya mengalami kerusakan dalam hal aqidah, bahkan akhlaknya juga rusak.
Nabi Muhammad SAW sebagai rasul tidak henti-hentinya berusaha memperbaiki akhlak masyarakat yang sudah rusak tersebut. Untuk memperbaiki akhlak, maka Allah SWT telah mengutus rasul yang memang semenjak kecil dikenal oleh masyarakat sebagai orang yang sangat mulia akhlaknya. Sejak masih kecil, remaja, sampai dewasa Nabi Muhammad sudah dikenal oleh masayarakat Makkah sebagai orang yang mempunyai kepribadian baik, berbeda dengan kebanyakan orang saat itu. Penampilannya pun sederhana, bersahaja, dan berwibawa. Ketika ia berjalan badannya agak condong kedepan, melangkah sigap dan pasti. Raut mukanya menunjukkan pikirannya yang cerdas, tajam, dan jernih. Pandangan matanya menunjukkan keteduhan dan kewibawaan, membuatorang patuh kepadanya. Ia juga dikenal sebagai orang yang jujur dalam setiap perkataan maupun perbuatan. Dengan sifatnya yang demikian itu tidak heran bila Khadijah, majikannya menaruh simpati kepadanya, dan tidak pula mengherankan bila Muhammad diberi keleluasaan mengurus hartanya. Khadijah juga membiarkannya menggunakan waktu untuk berpikir dan menuangkan hasil pemikirannya. Akhirnya Muhammad dan Khadijah menikah menjadi sepasang suami istri yang sangat setia dan memiliki anak-anak yang shalih.
Muhammad mendapat kurnia Tuhan dalam perkawinannya dengan Khadijah, mereka berada dalam kedudukan yang tinggi dan harta yang cukup. Seluruh penduduk Makkah memandangnya dengan rasa segan dan hormat. Mereka mensyukuri karunia Tuhan yang diberikan kepadanya serta anak dan keturunan yang baik. Semua itu tidak mengurangi pergaulannya dengan penduduk Makkah baik yang kaya maupun yang miskin. Dalam kehidupan hari-hari, Muhammad bergaul baik dengan masyarakat sekitar. Bahkan setelah menikah dengan Khadijah ia lebih dihormati di tengah-tengah masyarakat. Dengan dihormati orang Muhammad tidak menjadi tinggi hati, namun ia menjadi semakin rendah hati. Bila ada yang mengajaknya bicara ia mendengarkan dan memperhatikannya tanpa menoleh kepada orang lain. Perilakunya yang demikian sangat berbeda dengan kebanyakan orang Makkah yang menjadi sombong dan congkak ketika dihormati, dan marah-marah ketika merasa tidak dihormati. Muhammad juga bukan termasuk orang yang suka mengobral perkataan, ia berkata seperlunya, dan ia lebih banyak mendengarkan. Bila bicara selalu bersungguh-sungguh, tapi sungguhpun begitu ia sesekali membuat humor dan bersenda-gurau. Sifatnya yang jujur tersebut juga sangat berbeda dengan kebanyakan orang Makkah yang suka berbohong, membual, dan sulit dipercaya. Setiap bertemu orang Muhammad selalu tersenyum. Pada saat-saat tertentu juga bercanda dan terkadang tertawa sampai terlihat gerahamnya. Bila ia marah tidak pernah sampai tampak kemarahannya, hanya antara kedua keningnya tampak sedikit berkeringat, hal ini disebabkan ia menahan rasa amarah dan tidak mau menampakkannya keluar. Semua itu terbawa oleh kodratnya yang selalu lapang dada, berkemauan baik dan menghargai orang lain. Ia Bijaksana, murah hati dan mudah bergaul. Tapi ia juga mempunyai tujuan pasti, berkemauan kuat, tegas dan tak pernah ragu-ragu dalam tujuannya. Sifat-sifat demikian ini berpadu dalam dirinya dan meninggalkan pengaruh yang dalam sekali pada orang-orang yang bergaul dengan dia. Bagi orang yang melihatnya tiba-tiba, sekaligus akan timbul rasa hormat, dan bagi orang yang terbiasa bergaul dengannya akan timbul rasa cinta kepadanya.
Muhammad menjalin hubungan baik kepada penduduk Makkah. Ia juga berpartisipasi dalam kegiatan sosial dalam kehidupan masyarakat hari-hari. Pada waktu itu masyarakat sedang sibuk karena bencana banjir besar yang turun dari gunung kemudian menimpa dan meretakkan dinding-dinding Ka’bah yang memang sudah rapuh. Sebelum itupun masyarakat suku Quraisy memang sudah memikirkannya. Ka’bah yang tidak beratap itu menjadi sasaran pencuri mengambil barang-barang berharga di dalamnya. Hanya saja masyarakat suku Quraisy merasa takut kalau bangunannya diperkuat, pintunya ditinggikan dan diberi atap, dewa Ka’bah yang suci itu akan menurunkan bencana kepada mereka. Sepanjang zaman Jahiliyyah keadaan mereka diliputi oleh berbagai macam legenda yang mengancam bagi siapapun yang berani mengadakan sesuatu perubahan terhadap Ka’bah. Dengan demikian perbuatan itu dianggap tidak umum.
Tetapi sesudah mengalami bencana banjir tindakan demikian itu adalah suatu keharusan, walaupun masih diliputi rasa takut dan ragu-ragu. Bertepatan dengan kejadian itu, kapal milik seorang pedagang Romawi bernama Baqum yang datang dari Mesir terhempas di laut dan pecah. Sebenarnya Baqum adalah seorang ahli bangunan yang mengetahui masalah perdagangan. Sesudah suku Quraisy mengetahui hal ini, maka berangkatlah al-Walid bin al-Mughira dengan beberapa orang dari Quraisy ke Jeddah menemui Baqum. Kapal itu kemudian dibelinya, kemudian diajaknya berunding supaya sama-sama datang ke Makkah guna membantu mereka membangun Ka’bah kembali. Baqum menyetujui permintaan itu. Pada waktu itu di Makkah ada seorang Kopti yang mempunyai keahlian sebagai tukang kayu. Persetujuan tercapai bahwa diapun akan bekerja dengan mendapat bantuan Baqum.
Sudut-sudut Ka’bah oleh suku Quraisy dibagi empat bagian tiap kabilah mendapat satu sudut yang harus dirombak dan dibangun kembali. Sebelum bertindak melakukan perombakan itu mereka masih ragu-ragu dan khawatir akan mendapat bencana. Kemudian al-Walid bin al-Mughira tampil ke depan dengan merasa sedikit takut. Setelah berdoa kepada dewa-dewanya, ia mulai merombak bagian sudut selatan. Orang-orang menunggu apa yang akan dilakukan Tuhan terhadap al-Walid. Tetapi setelah sampai pagi hari tak terjadi apa-apa, mereka pun beramai-ramai merombaknya dan memindahkan batu-batu yang ada. Muhammad pun ikut dalam kerja bakti itu. Sesudah bangunan itu setinggi orang berdiri dan tiba saatnya meletakkan Hajar Aswad yang disucikan di tempatnya semula di sudut timur, maka timbullah perselisihan di kalangan Quraisy, siapa yang seharusnya mendapat kehormatan meletakkan batu itu pada tempatnya semula. Demikian memuncaknya perselisihan itu sehingga hampir saja timbul perang saudara. Keluarga Abdud Dar dan keluarga ‘Adi bersepakat takkan membiarkan kabilah yang manapun campur tangan dalam kehormatan yang besar ini. Untuk itu mereka mengangkat sumpah bersama. Keluarga Abdud Dar membawa sebuah baki berisi darah. Tangan mereka dimasukkan ke dalam baki itu guna memperkuat sumpah mereka. Karena itu lalu diberi nama La’aqatud Dam, yakni ‘jilatan darah.’ Abu Umayyah bin al-Mughira dari Bani Makhzum, adalah orang yang tertua di antara mereka. Ia dihormati dan dipatuhi. Setelah melihat keadaan serupa itu ia berkata kepada mereka: "Serahkanlah putusan kamu ini di tangan orang yang pertama sekali memasuki pintu Shafa ini. "Tatkala mereka melihat Muhammad adalah orang pertama memasuki tempat itu, mereka berseru: "Ini al-Amin (orang yang terpercaya) ; kami dapat menerima keputusannya." Lalu mereka menceritakan peristiwa itu kepada Muhammad. Iapun mendengarkan dan sudah melihat di mata mereka betapa berkobarnya api permusuhan itu. Ia berpikir sebentar, lalu katanya: "Kemarikan sehelai kain," katanya. Setelah kain dibawakan dihamparkannya dan diambilnya batu itu lalu diletakkannya dengan tangannya sendiri, kemudian katanya; "Hendaknya setiap ketua kabilah memegang ujung kain ini." Mereka bersama-sama membawa kain tersebut ke tempat batu itu akan diletakkan. Lalu Muhammad mengeluarkan batu itu dari kain dan meletakkannya di tempatnya. Dengan demikian perselisihan itu berakhir dan bencana dapat dihindarkan. Quraisy menyelesaikan bangunan Ka’bah sampai setinggi delapanbelas hasta (± 11 meter), dan ditinggikan dari tanah sedemikian rupa, sehingga mereka dapat menyuruh atau melarang orang masuk. Di dalam Ka’bah itu mereka membuat enam batang tiang dalam dua deretan dan di sudut barat sebelah dalam dipasang sebuah tangga naik sampai ke teras di atas lalu meletakkan Hubal di dalam Ka’bah. Juga di tempat itu diletakkan barang-barang berharga lainnya, yang sebelum dibangun dan diberi beratap menjadi sasaran pencurian.
Kejadian ini berlangsung saat Muhammad berusia 35 tahun, dan keputusannya mengambil batu dan diletakkan di atas kain lalu mengambilnya dari kain dan diletakkan di tempatnya dalam Ka’bah, menunjukkan betapa tingginya kedudukannya dimata penduduk Makkah, betapa besarnya penghargaan mereka kepadanya sebagai orang yang berjiwa besar. Pada tahun 611 M, waktu itu Muhammad berusia 40 tahun beliau menerima wahyu yang pertama. Di puncak Gunung Hira, – sejauh dua farsakh sebelah utara Makkah – terletak sebuah gua yang sangat kondusif untuk tempat menyendiri (berkhalwat). Sepanjang bulan Ramadan tiap tahun Muhammad pergi ke sana dan berdiam di tempat itu. Ia tekun dalam merenung dan beribadah, menjauhkan diri dari segala kesibukan hidup dan keributan manusia. Ia mencari Kebenaran tentang keberadaan Tuhan dan merenungkan keboborokan perilaku sehari-hari masyarakat Arab saat itu. Demikian kuatnya ia merenung mencari hakikat kebenaran itu, sehingga lupa ia akan dirinya, lupa makan, lupa segala yang ada dalam hidup ini. Sebab, segala yang dilihatnya dalam kehidupan manusia sekitarnya, bukanlah suatu kebenaran. Ia merenung untuk mencari jawaban mengenai perilaku masyarakat dalam masalah-masalah hidup. Apa yang disajikan sebagai kurban-kurban untuk tuhan-tuhan mereka itu, bukanlah sesuatu yang dapat dibenarkan menurut rasio dan nurani yang jernih. Berhala-berhala yang tidak berguna, tidak menciptakan dan tidak pula mendatangkan rejeki, tak dapat memberi perlindungan kepada siapapun yang ditimpa bahaya tidak selayaknya dipuja dan disembah. Hubal, Lata dan ‘Uzza, dan semua patung-patung dan berhala-berhala yang terpancang di dalam dan di sekitar Ka’bah, tak pernah menciptakan seekor lalat sekalipun, atau akan mendatangkan suatu kebaikan bagi Makkah. Ketika itulah ia percaya bahwa masyarakatnya telah tersesat, jauh dari kebenaran.Keyakinan mereka terhadap keberadaan Tuhan telah rusak karena tunduk kepada khayal berhala-berhala serta kepercayaan-kepercayaan semacamnya. Kebenaran itu ialah Allah, Khalik seluruh alam, tak ada tuhan selain Dia. Kebenaran itu ialah Allah Pemelihara semesta alam. Dialah Maha Rahman dan Maha Rahim. Kebenaran itu ialah bahwa manusia dinilai berdasarkan perbuatannya. "Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat atompun akan dilihatNya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat atompun akan dilihatNya pula." (Qur’an, 99:7-8) Dan bahwa surga itu benar adanya dan neraka juga benar adanya. Mereka yang menyembah tuhan selain Allah mereka itulah menghuni neraka, tempat tinggal dan kediaman yang paling durhaka. Tatkala ia sedang bertahanuth, ketika itulah datang malaikat membawa sehelai lembaran seraya berkata kepadanya: "Bacalah!" Dengan terkejut Muhammad menjawab: "Saya tak dapat membaca". Ia merasa seolah malaikat itu mencekiknya, kemudian dilepaskan lagi seraya katanya lagi: "Bacalah!" Masih dalam ketakutan akan dicekik lagi Muhammad menjawab: "Apa yang akan saya baca." Seterusnya malaikat itu berkata: "Bacalah! Dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah. Dan Tuhanmu Maha Pemurah. Yang mengajarkan dengan Pena. Mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya …" Lalu ia mengucapkan bacaan itu. Malaikatpun pergi, setelah kata-kata itu terpateri dalam kalbunya. Setelah menerima wahyu yang pertama itu maka Muhammad menjadi seorang utusan (rasul), sehingga dia mempunyai kewajiban untuk menyampaikan ajaran Allah SWT kepada umat manusia. Setelah menjadi rasul, maka sifat-sifat mulia yang dimilikinya tdak hanya dimilikinya sendiri, namun dia harus mengajarkan dan memberi teladan kepada umat manusia untuk berakhlak yang mulia. Nabi Muhammad bersabda :
Artinya : “Diriwayatkan dari Abi Hurairah, Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak)” (HR Ahmad).
Artinya : “Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya”. (QS Fathir : 10) Nabi Muhammad mengajarkan bahwa kemuliaan manusia tidak diukur dari harta, keturunan, suku, keindahan tubuh, kekuatan, maupun pangkat dan jabatannya dalam masyarakat. Namun kemuliaan manusia terletak pada ketaatannya kepada Allah SWT dan kemuliaan akhlaknya, baik berupa sikap, perkataan, maupun perbuatannya dalam kehidupan sehari-hari. Padahal ketika itu masayarakat Arab sangat menonjolkan keturunan dan sukunya. Mereka sering berselisih, bertengkar bahkan berperang agar sukunya menjadi yang paling terhormat diantara yang lain. Mereka juga sangat membanggakan harta dan kedudukan. Semakin banyak harta dan memiliki banyak budak, maka mereka merasa menjadi mulia. Setelah menjadi rasul, Nabi Muhammad SAW memberikan ajaran yang sangat mulia bahwa sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat dan dapat bermanfaat bagi orang lain. Padahal perilaku masyarakat Quraisy saat itu seringkali menyengsarakan orang lain,, mereka semena-mena terhadap orang-orang miskin apalagi terhadap budak-budak mereka. Betapa beratnya tugas Nabi Muhammad SAW untuk membina manusia agar berakhlak mulia ketika kondisi akhlaknya sudah buruk. Namun semua itu dilakukan beliau dengan penuh kesabaran dan dengan cara memberi teladan.
B.     Nabi Muhammad Sebagai Rahmat bagi Alam Semesta
Bagi orang-orang yang merasakan bahwa kehidupan para pembesar dan bangsawan Makkah yang sudah sesat dan keterlaluan, namun mereka tidak mampu berbuat apa-apa, maka kehadiran Nabi Muhammad saw. seperti seteguk air saat mereka merasakan dahaga yang sudah sangat lama. Nabi Muhammad saw. mengajarkan tentang persamaan derajat manusia. Nabi Muhammad saw. juga mengajarkan agar penyelesaian masalah tidak boleh dilakukan dnegan cara kekerasan, namun harus dilakukan dengan cara-cara yang damai dan beradab. Hal ini tercermin dalam tindakan Nabi Muhammad ketika mendamaikan masyarakat Makkah saat akan meletakkan Hajar  Aswad pada tempatnya. Nabi Muhammad mengajarkan agar manusia bekerja keras untuk dapat memenuhi kebutuhannya, namun ketika menjadi kaya maka dia harus mengasihi yang miskin dengan cara menyisihkan sebagian hartanya untuk mereka. Orang yang kuat harus mengasihi yang lemah. Orang tua harus menyayangi anaknya baik anak itu laki-laki maupun perempuan, sebaliknya anak harus menghormati dan berbakti kepada orang tuanya walaupun mereka sudah sangat tua. Ketika antar anggota masyarakat dapat memahami hak dan kewajibannya, saling menghormati, menghargai, dan mengasihi, maka akan menjadi masyarakat yang damai, aman, tenteram dan sejahtera. Terbukti, saat ini keadaan Masyarakat Makkah dan Madinah menjadi masyarakat yang sangat beradab, damai, sejahtera dan mengalami kemajuan yang pesat. Semua itu diawali dengan ketakwaan mereka kepada Allah dan senantiasa berpegang teguh kepada ajaran Nabi Muhammad saw. Dengan demikian sesungguhnya Nabi Muhammad ditus oleh Allah SWT sebagai rahmat bagi seluruh alam. Nabi tidak hanya diutus untuk penduduk Makkah saja, atau bagi bangsa  Arab saja, namun nilai-nilai yang dibawanya adalah nilai-nilai universal yang dapat meningkatkan martabat umat manusia sehingga berbeda dengan binatang.
Perjuangan dan dakwah rasulullah selama dimadinah
Rencana hijrah Rasulullah diawali karena adanya perjanjian antara NabiMuhammad SAW dengan orang-orang Yatsrib yaitu suku Aus dan Khazraj saat di Mekkah yang terdengar sampai ke kaum Quraisy hingga Kaum Quraisy pun merencanakan untuk membunuh Nabi Muhammad SAW.
Pembunuhan itu direncanakan melibatkan semua suku. Setiap suku diwakili oleh seorang pemudanya yang terkuat. Rencana pembunuhan itu terdengar oleh Nabi SAW, sehingga ia merencanakan hijrah bersama sahabatnya, Abu Bakar. Abu Bakar diminta mempersiapkan segala hal yang diperlukan dalam perjalanan, termasuk 2ekor unta. Sementara Ali bin Abi Thalib diminta untuk menggantikan Nabi SAW menempati tempat tidurnya agar kaum Quraisy mengira bahwa Nabi SAW masih tidur. Pada malam hari yang direncanakan, di tengah malam buta Nabi SAW keluar dari rumahnya tanpa diketahui oleh para pengepung dari kalangan kaum Quraisy. Nabi SAW menemui Abu Bakar yang telah siap menunggu. Mereka berdua keluar dari Mekah menuju sebuah Gua Tsur, kira-kira 3 mil sebelah selatan Kota Mekah. Mereka bersembunyi di gua itu selama 3 hari 3 malam menunggu keadaan aman.
6.      Uraikan secara singkat tapi padat dakwah dan perjuangan khulafaur Rasyidin !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar