BAB II
PEMBAHASAN
Faktor afiksasi memegang peranan penting dalam
pemakaian bahasa Indonesia, khususnya dalam segi pembentukan kata. Menurut
posisinya, afiks atau imbuhan bahasa Indonesia terbagi atas tiga jenis imbuhan,
jenis awalan, akhiran, dan sisipan. [1]
Bentuk-bentuk awalan menduduki posisi awal kata. Awalan yang tinggi frekuensi
pemakaiannya yaitu: awalan meng-, ber-, pe-, ber-, di-, ke-, ter-, dan se-. Di
antara awalan itu di samping ada yang memiliki bentuk yang tetap, terdapat pula
yang mengalami bentuk perubahan bunyi. Hal itu tidak menutup kemungkinan para
pemakai bahasa Indonesia dalam melakukan kesalahan mengucapkan bentuk-bentuk
tersebut. Kesalahan lainnya dapat terjadi dalam segi fungsi awalan itu, baik
dalam segi gramatikalnya maupun semantisnya.
Akhiran bahasa Indonesia yang produktif yaitu
akhiran an, kan, dan i. Akhiran ini tidak mengalami perubahan
bentuk. Tetapi dalam segi fungsinya,
banyak pemakai bahasa Indonesia yang melakukan kesalahan menggunakan akhiran
ini. Tataran
bahasa bisa meliputi fonologi, morfologi.[2]
Kesalahan berbahasa bidang morfologi dapat dikelompokkan menjadi kelompok :
·
Afiksasi
o
kesalahan berbahasa karena salah menentukan bentuk asal.
|
SALAH
|
BENAR
|
|
-himbau
-trap
-Lanjur
-lunjur
-telor
|
-imbau
-terap
-anjur
-unjur
-telur
|
o
fonem yang
seharusnya luluh dalam proses afiksasi tidak diluluhkan.
KTSP (luluh)
|
SALAH
|
BENAR
|
|
-mentabrak
-mentertawakan
-mentendang
-mentumis
-mentumbuk
|
-menabrak
-menertawakan
-menendang
-menumis
-menumbuk
|
o
fonem yang
seharusnya tidak luluh
dalam proses afiksasi justru diluluhkan.
|
SALAH
|
BENAR
|
|
-memitnah
-Memotokopi
-Memilemkan
-memasihkan
|
-memfitnah
-memfotokopi
-memfilemkan
-memfasihkan
|
o
penulisan klitika yang tidak tepat, penulisan kata depan
yang tidak tepat, dan penulisan partikel yang tidak tepat
·
Reduplikasi
o
kesalahan berbahasa disebabkan kesalahan dalam menentukan
bentuk dasar yang diulang. Misalnya bentuk gramatik mengemasi diulang menjadi
mengemas-kemasi yang seharusnya mengemas-ngemasi
o
kesalahan berbahasa terjadi karena bentuk dasar yang
diulang seluruhnya hanya sebahagian yang diulangi. Misalnya bentuk gramatik
kaki tangan diulang menjadi kaki-kaki tangan yang seharusnya diulang
seluruhnya, yakni kaki tangan-kakitangan
o
kesalahan berbahasa terjadi karena menghindari perulangan
yang terlalu panjang. Misalnya bentuk gramatik orang tua bijaksana diulang
hanya sebahagian yakni, orang-orang tua bijaksana. Seharusnya perulangannya
penuh, yakni orang tua bijaksana-orang tua bijaksana
·
Gabungan kata
atau kata majemuk.
o
Gabungan kata yang seharusnya serangkai dituliskan tidak
serangkai, misalnya matahari (serangkai) dituliskan tidak serangkai, yakni mata
hari
|
SALAH
|
BENAR
|
|
-bumi putra
-segi tiga
-sapu tangan
-darma wisata
-Suka rela
|
-bumiputra
-segitiga
-saputangan
-darmawisata
-sukarela
|
o
kata majemuk
yang seharusnya ditulis terpisah, sebaliknya ditulis bersatu. Misalnya kata majemuk yang
ditulis bersatu ini rumahsakit, tatabahasa, dan
matapelajaran seharusnya ditulis terpisah seperti berikut rumah sakit, tata bahasa, dan mata pelajaran.
|
SALAH
|
BENAR
|
|
tanganbesi
tangandingin
tanganhampa
|
-tangan besi
-tangan dingin
-tangan hampa
|
o
kata majemuk yang sudah berpadu benar kalau diulang
seluruhnya harus diulang. Ternyata dalam penggunaan bahasa hanya sebahagian
yang diulang. Misalnya, segi-segitiga, mata-matahari, dan bumi-bumiputra
dituliskan secara lengkap menjadi segitiga-segitiga, matahari-matahari, dan
bumiputra-bumiputra.
1) Perulangan seluruhnya.
Salah Benar
besar-besar kecil besar
kecil - besar kecil
biji-biji mata biji
mata - biji mata
buah-buah hati
buah hati - buah hati
harta-harta benda
harta benda - harta benda
kaki-kaki
tangan kaki tangan - kaki tangan
2) Perulangan sebahagian
Tak Salah (kurang ekonomis) Benar
(lebih ekonomis)
abu gosok - abu gosok abu
- abu gosok
alat ukur - alat ukur alat
- alat ukur
cincin kawin - cincin kawin cincin - cincin kawin
hutan bakau - hutan bakau
hutan - hutan bakau
ikat
kepala - ikat kepala ikat
- ikat kepala
3)
Lebih dianjurkan perulangan sebahagian
Tidak
Dianjurkan
rumah
sakit jiwa - rumah sakit jiwa
kereta
api cepat - kereta api cepat
tanah
tumpah darah - tanah tumpah darah
tukang
bubur ayam - tukang bubur ayam
wakil
kepala bagian - wakil kepala bagian
Dianjurkan
rumah
- rumah sakit jiwa
kereta
- kereta api cepat
tanah
- tanah tumpah darah
tukang
- tukang bubur ayam
wakil
- wakil kepala bagian
o
proses prefiksasi atau sufiksasi dianggap menyatukan
penulisan kata majemuk yang belum padu. Misalnya proses afiksasi ber- pada kata
majemuk bertanggungjawab seharusnya ditulis bertanggung jawab
Kata Majemuk Berafiksasi
1) Kata Majemuk Berawalan
Salah Benar
beraducepat beradu
cepat
beralihnama beralih
nama
menganaksungai menganak
sungai
dicacimaki dicaci
maki
dicampuraduk dicampur
aduk
pencucigudang
pencuci
gudang
2)
Kata majemuk berakhiran
Salah
Benar
anakasuhan
anak
asuhan
anakdidikan
anak
didikan
ayamaduan
ayam
aduan
bebashambatan
bebas
hambatan
binaragawan bina
ragawan
Kata
Majemuk dengan Gabungan Afiks dan Sufiks
Salah
Benar
dianaktirikan
dianaktirikan
dianak-tirikan
dihancur
leburkan dihancurleburkan
dihancur-leburkan
dialih
bahasakan dialihbahasakan
dialih-bahasakan
dibagi
ratakan dibagiratakan
dibagi-ratakan
pemberi
tahuan pemberitahuan
pemberi-tahuan
BAB
III
KESIMPULAN
Faktor afiksasi memegang peranan penting dalam pemakaian bahasa Indonesia,
khususnya dalam segi pembentukan kata. Bentuk-bentuk awalan menduduki posisi awal kata. Awalan yang tinggi
frekuensi pemakaiannya yaitu: awalan meng-, ber-, pe-, ber-, di-, ke-, ter-,
dan se-. Akhiran bahasa Indonesia yang produktif yaitu akhiran an, kan, dan
i.
Kesalahan berbahasa bidang morfologi dapat dikelompokkan menjadi kelompok :
v afiksasi
v reduplikasi
v gabungan kata atau kata majemuk
DAFTAR PUSTAKA
Alwi, Hasan.
2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Tarigan, Guntur H. (1997). Analisis
Kesalahan Berbahasa. Jakarta: Depdikbud
D semangat2 ya._^good luck !
BalasHapus